TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG DI BLOG INI

Sabtu, 22 Oktober 2011

PENINGKATAN PROSES DAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA PADA MATERI SURAT UNDANGAN MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION BAGI SISWA KELAS V DI SEKOLAH DASAR NEGERI TANGKISAN 02 KECAMATAN TAWANGSARI KABUPATEN SUKOHARJO TAHUN PELAJARAN 2010/2011

ABSTRAK
Wagiastuti, 2010. Peningkatan Proses Dan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Pada Materi Surat Undangan  Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Cooperative Integrated Reading And Composition Bagi Siswa Kelas V  Di Sekolah Dasar Negeri Tangkisan 02 Kecamatan Tawangsari  Kabupaten Sukoharjo  Tahun Pelajaran 2010/2011.

Proses belajar mengajar tidak dapat dilepaskan dari tujuan mengajar. Setiap kegiatan yang dilakukan melalui proses, pasti ada tujuan yang ingin dicapai. Demikian pula dengan pembelajaran, di dalamnya terdapat tujuan yang hendak dicapai. Untuk mencapai tujuan tersebut suatu proses pengajaran tidak dapat dilepaskan dari adanya bahan mengajar, penerapan pendekatan, dan penerapan metode pembelajaran yang mudah diikuti dan dipahami oleh siswa.

Penelitian ini berdasarkan permasalahan : (a) Apakah proses belajar Bahasa Indonesia pada materi menulis surat undangan dapat ditingkatkan melalui melalui pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading and Composition pada siswa kelas V SD Negeri Tangkisan 02 Kecamatan Tawangsari? (b) Apakah pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading and Composition dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia pada materi menulis surat undangan menjadi lebih baik?

Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah: (a) Meningkatkan proses belajar siswa kelas V SD Negeri Tangkisan 02 Kecamatan Tawangsari dalam belajar Bahasa Indonesia melalui pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading and Composition. (b) Meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Tangkisan 02 Kecamatan Tawangsari dalam belajar Bahasa Indonesia khususnya pada materi surat undangan melalui pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading and Composition

Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (class action research) sebanyak dua siklus, setiap siklus terdiri dari empat tahap, yaitu : (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan  (4) refleksi. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri Tangkisan 02 Kecamatan Tawangsari tahun pelajaran 2010/2011. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi kegiatan belajar mengajar, dan angket.

Hasil penelitian pada siklus I menunjukkan rata-rata hasil belajar siswa 67, pada siklus II rata-rata hasil belajar siswa 84 terjadi peningkatan nilai sebesar 17.  Pada siklus I prosentase ketuntasan belajar sebesar 65%, pada siklus II semua siswa telah berhasil mencapai ketuntasan, ini berarti terjadi peningkatan sebsar 35%. Sedangkan aktivitas belajar siswa pada siklus I sebesar 57,5%, pada siklus II sebesar 93,5% terjadi peningkatan sebesar 36 %.

Kesimpulannya adalah dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading and Composition dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Tangkisan 02 Kecamatan Tawangsari Kabupaten Sukoharjo.



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
            Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dinyatakan bahwa “Standar Kompetensi dan Kopetensi Dasar Bahasa Indonesia di sekolah dasar merupakan standar minimum yang secara nasional harus dicapai oleh peserta didik dan menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan  indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian  (Depdiknas, 2007:)”. Salah satu tujuan mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah  agar peserta didik memiliki kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis. Dengan demikian melalui mata pelajaran Bahasa Indonesia, kemampuan siswa kelas V Sekolah Dasar untuk mencari tahu secara sistematis tentang surat undangan, pengembangan kerja dan sikap ilmiah seharusnya sudah terbentuk.
            Pengertian tersebut mengandung makna bahwa aktivitas pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas V Sekolah Dasar menurut guru mampu menyediakan dan mengelola pembelajaran Bahasa Indonesia; dengan suatu metode dan teknik penunjang yang memungkinkan siswa dapat mengalami seluruh tahapan pembelajaran yang bermuatan keterampilan, aktivitas, sikap ilmiah, dan penguasaan konsep.
            Namun dari pengamatan keseharian sebagai seorang guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, ternyata kemampuan siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Tangkisan 02 Kecamatan Tawangsari Kabupaten Sukoharjo masih jauh dari gambaran ideal di atas. Dari sejumlah 23 siswa kelas V, ada 13 siswa yang mengalami kesulitan membuat surat resmi dengan undangan , penggunaan tanda baca dan huruf kapital.
            Faktor-faktor penyebab siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Tangkisan 02 Kecamatan Tawangsari Kabupaten Sukoharjo mengalami kesulitan di antaranya (1) guru kurang memberikan bimbingan terhadap tentang tugas yang harus dikerjakan, sehingga siswa kebingungan dalam mempelajari  materi surat undangan, (2) guru kurang memberikan petunjuk yang jelas kepada siswa dalam melakukan kegiatan kelompok, (3) siswa hanya membaca dan menghafal saja tanpa berusaha memahami lebih dalam materi surat undangan, dan (4) siswa kurang mengetahui cara-cara menyampaikan informasi untuk dalam bentuk surat resmi dengan kalimat dan ejaan yang benar.
            Dari faktor-faktor penyebab kesulitan siswa dalam materi surat undangan tersebut di atas diperlukan suatu tindakan untuk mengatasi permasalahan yang terjadi selama berlangsungnya pembelajaran Bahasa Indonesia bagi siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Tangkisan 02 Kecamatan Tawangsari Kabupaten Sukoharjo. Dengan mempertimbangkan berbagai kelebihannya dan melakukan diskusi dengan guru setempat dan para kolaboran lainnya, upaya yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading And Composition (CIRC).
B.      Identifikasi Masalah
            Berdasarkan latar belakang masalah di atas, masalah yang mungkin timbul pada mata pelajaran Bahasa Indonesia pada materi surat undangan dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1.      guru kurang memberikan bimbingan terhadap tentang tugas yang harus dikerjakan
2.      siswa kebingungan dalam mempelajari  materi surat undangan
3.      siswa hanya membaca dan menghafal saja tanpa berusaha memahami lebih dalam materi surat undangan
4.      siswa kurang mengetahui cara-cara menyampaikan informasi untuk dalam bentuk surat resmi dengan kalimat dan ejaan yang benar
5.      siswa belum menguasai penggunaan pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading and Composition
C.      Pembatasan Masalah.
a. Masalah dalam penelitian ini penulis batasi pada:
1.    Belajar Bahasa Indonesia pada materi menulis surat undangan
2.    Pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading and Composition.
Pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading and Composition adalah pembelajaran yang mengedepankan kemampuan siswa untuk dapat bekerjasama dalam kelompok kecil yang heterogen; yang masing-masing anggota dalam kelompok mempunyai tugas yang setara.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana penerapan pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading and Composition dalam upaya meningkatkan proses dan hasil belajar Bahasa Indonesia materi menulis surat undangan?
2.      Apakah melalui pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading and Composition dapat meningkatkan proses dan hasil belajar Bahasa Indonesia materi menulis surat undangan bagi siswa kelas V SD Negeri Tangkisan 02 Kecamatan Tawangsari tahun pelajaran 2010/2011?

E. Pemecahan Masalah
Dalam penelitian ini permasalahan yang muncul adalah rendahnya aktifitas  siswa kelas V SD Negeri Tangkisan 02 Kecamatan Tawangsari dalam belajar Bahasa Indonesia pada materi surat undangan. Untuk mengatasi masalah tersebut, peneliti mengambil tindakan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading and Composition. Peneliti berkeyakinan bahwa dengan menerapkan model tersebut, masalah-masalah yang menyebabkan rendahnya aktivitas  siswa kelas V SD Negeri Tangkisan 02 Kecamatan Tawangsari dalam belajar Bahasa Indonesia pada materi surat undangan akan teratasi karena model ini memberikan keuntungan bagi guru dan siswa.
F. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagaimana tujuan umum penelitian tindakan kelas adalah meningkatnya hasil belajar siswa. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
1.                       Meningkatkan proses belajar siswa kelas V SD Negeri Tangkisan 02 Kecamatan Tawangsari dalam belajar Bahasa Indonesia melalui pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading and Composition
2.                       Meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Tangkisan 02 Kecamatan Tawangsari dalam belajar Bahasa Indonesia khususnya pada materi surat undangan melalui pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading and Composition

G. Manfaat Hasil Penelitian
Berdasarkan masalah penelitian dan tujuan penelitian yang dikemukakan di atas, hasil penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat sebagai berikut:
1.             Bagi guru, hasil penelitian ini dapat digunakan (a) sebagai alternatif dalam pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya pada materi surat undangan] pada siswa kelas kelas V SD Negeri Tangkisan 02 Kecamatan Tawangsari dan (b) menambah keterampilan guru dalam melaksanakan PTK;
2.         Bagi siswa, hasil penelitian ini dapat digunakan untuk membantu meningkatkan kemampuan pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya pada materi surat undangan melalui pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading and Composition
3.        Bagi sekolah, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi tentang model-model pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya pada materi surat undangan
Bagi peneliti, hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya pada materi surat undangan dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading and Composition



BAB II

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A.                Kajian tentang Hasil Belajar Bahasa Indonesia
            Sebagian besar ahli berpendapat bahwa belajar adalah proses perubahan hasil dari pengalaman. Untuk mendapatkan pengertian belajar secara jelas dikemukakan beberapa definisi belajar menurut beberapa ahli, adalah sebagai berikut:
                 1)  Gagne dan Berliner (Ani Tri, 2004:2) menyatakan bahwa
belajar merupakan proses dimana suatu organisme mengubah perilakunya karena hasil dari pengalaman.
                 2)  James O Whittaker  (Djamaram, 2002:12-13) merumuskan belajar sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.
                 3)  Slameto dalam tulisan Saiful Bahri Djamaram (2002:12-13) merumuskan pengertian tentang belajar sebagai suatu proses usaha yang dilakukan indivdu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.
            Dari beberapa pendapat para ahli tentang pengertian belajar di atas dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan dua unsur yaitu jiwa dan raga
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif yang ada dalam dirinya.
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan    pasal 6 ayat (1) menyatakan bahwa kurikulum untuk semua jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas lima kelompok mata pelajaran, yaitu:
1.      Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia;
2.      Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian;
3.      Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi;
4.      Kelompok mata pelajaran estetika;
5.      Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan.
            Adapun pengelompokan mata pelajaran selengkapnya sebagai berikut:
1.         Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia meliputi Pendidikan Agama
2.         Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian meliputi Pendidikan Kewarganegaraan.
3.         Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi meliputi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Keterampilan/Teknologi Informasi dan Komunikasi.
4.         Kelompok mata pelajaran estetika meliputi Seni Budaya dan muatan lokal yang relevan.
5.         Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan meliputi Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan
Mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1.      Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis
2.      Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara
3.      Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan
4.      Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan  intelektual, serta kematangan emosional dan sosial
5.      Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa
6.      Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia (Depdiknas, 2005)
Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia mencakup komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1.      Mendengarkan
2.      Berbicara
3.      Membaca
4.      Menulis.

B.                 Menulis surat undangan
a.                  Hakikat Menulis
Menulis merupakan suatu aktivitas komunikasi bahasa yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Tulisan itu terdiri atas rangkaian huruf yang bermakna dengan segala kelengkapan lambang tulisan seperti ejaan dan pungtuasi. Seseorang bisa disebut sebagai penulis karena memiliki kemahiran menuangkan secara tertulis ide, gagasan, dan perasaan dengan  runtut. Apa yang dituliskan mengandung arti dan manfaat yang membuat orang lain merasa perlu membaca dan menikmatinya (Akhadiah, dkk. 2001: 1.3)
Ketika menulis, yang digunakan adalah simbul-simbul grafis, yaitu huruf-huruf atau kumpulan huruf yang berhubungan. Pada kenyataannya, dapat ditegaskan bahwa menulis itu lebih dari sekedar produksi simbul-simbul grafis. Simbul-simbul tersebut harus disusun menurut kaidah-kaidah tertentu untuk membentuk kata-kata dan kata-kata itu harus disusun menjadi kalimat (Byrne, 1988: 1).
Menulis merupakan suatu proses. Proses itu merupakan sesuatu yang kompleks. Berbagai masalah dapat timbul secara simultan sehingga seorang penulis perlu memiliki pemahaman yang lebih baik untuk menciptakan proses kerja yang efektif sehingga menghasilkan tulisan yang baik (Hedge, 1988: 19).
Berdasarkan uraian  di atas dapat disimpulkan bahwa dalam kegiatan menulis diperlukan suatu keterampilan dalam pengorganisasian ide-ide ke dalam bentuk tulisan yang runtut dan padu. Dalam tulisan tersebut harus diperhatikan kaidah-kaidah penulisannya.
Menulis adalah sebuah keterampilan berbahasa yang terpadu, yang ditujuakan untuk menghasilkan sesuatu yang disebut tulisan. Sekurang-kurangnya, ada tiga komponen yang tergabung dalam perbuatan menulis, yaitu: (1) penguasaan bahasa tulis, meliputi kosakata, struktur, kalimat, paragraf, ejaan, pragmatik, dan sebagainya; (2) penguasaan isi karangan sesuai dengan topik yang akan ditulis, dan (3) penguasaan tentang jenis-jenis tulisan, yaitu bagaimana merangkai isi tulisan dengan menggunakan bahasa tulis sehingga membentuk sebuah komposisi yang diinginkan, seperti esei, artikel, cerita pendek, makalah, dan sebagainya. (KhaerudinKurniawanhttp://www.ialf.edu/kipbipa/papers/ khaherudinkurniawan.doc.)
Menulis adalah bentuk keterampilan dan pengetahuan yang banyak melibatkan kemampuan siswa. Dalam sebuah tulisan terkandung ide sang penulis untuk disampaikan kepada orang lain. Ketika akan menyampaikan ide, penulis harus mampu mencari kata bahasa yang dapat dimengerti orang lain, baik dari sisi urutan kata-kata maupun bentuk kalimat. Dengan begitu, pengetahuan penulis (dalam hal ini siswa)  dapat dibaca atau dipahami orang lain (Gerbang, 2005: 45).
Tulisan yang efektif harus mengandung unsur-unsur: singkat, jelas, tepat, aliran logika lancar, serta kohern. Artinya, dalam tulisan itu tidak perlu menambahkan hal-hal di luar isi pokok tulisan, tidak mengulang-ulang yang sudah dijelaskan (redudant), tidak mempunyai arti ganda (ambiguous, dan paparan ide pokok didukung oleh penjelasan dan simpulan. Ide-ide pokok tersebut saling berkaitan, mendukung ide utama sehingga seluruh bagian tulisan merupakan kesatuan yang saling berhubungan atau bertautan (cohernce). (Etty Indriyati, 2002, 34).
Berdasarkan hakikat menulis di atas, dapat disimpulkan bahwa menulis tidak hanya sekedar menuangkan ide-ide ke dalam bentuk tulisan, tetapi yang terpenting adalah bagaimana tulisan itu dapat dipahami oleh pembaca.
b.                   Pembelajaran  Menulis
Siswa mempelajari bahasa sebagai alat komunikasi lebih daripada sekedar pengetahuan tentang bahasa. Pembelajaran bahasa, selain untuk meningkatkan keterampilan berbahasa dan bersastra, juga untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan bernalar serta kemampuan memperluas wawasan. Selain itu, juga diarahkan untuk mempertajam perasaan siswa. Siswa tidak hanya diharapkan mampu memahami informasi yang disampaikan secara lugas atau langsung, tetapi juga yang disampaikan secara terselubung atau secara tidak langsung. Siswa tidak hanya pandai dalam bernalar, tetapi memiliki kecakapan di dalam interaksi sosial dan dapat menghargai perbedaan baik di dalam hubungan antar individu maupun di dalam kehidupan bermasyarakat, yang berlatar dengan berbagai budaya dan agama (Depdiknas: 2003: 4).
Agar siswa mampu berkomunikasi, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk membekali siswa terampil berkomunikasi baik secara lisan maupun tertulis. Siswa dilatih lebih banyak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, tidak dituntut untuk menguasai pengetahuan tentang bahasa.
Yang perlu ditandaskan adalah pelajaran menulis haruslah dipentingkan dan diberi waktu secara cukup dan diberikan secara tetap. Jika tidak, berarti guru tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih berbahasa secara tertulis, yang sangat berguna dalam kehidupannya kelak.
Mengingat pentingnya menulis, dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah perlu lebih diefektifkan. Dengan diajarkan materi menulis tersebut diharapkan siswa mempunyai keterampilan yang lebih baik (Pusbuk, 2005: 30). Seseorang yang dapat membuat suatu tulisan dengan baik  berarti ia telah menguasai tata bahasa, mempunyai perbendaharaan kata, dan mempunyai kemampuan menuangkan ide atau gagasan dalam bentuk tulisan. Dengan demikian, tulisan siswa dapat dijadikan tolok ukur keberhasilan siswa dalam pelajaran bahasa Indonesia.
Untuk mengetahui atau mengukur kualitas tulisan (selain diukur oleh guru lewat instrumen penilaian), siswa bisa mengikuti lomba menulis artikel antarpelajar. Dengan mengikuti lomba tersebut, siswa (guru) dapat mengetahui sejauh mana mutu tulisan yang dihasilkan.
c.                  Surat undangan
                         i.     Pengertian Surat
Dalam berkomunikasi, manusia saling memberikan informasi. Pemberian informasi oleh manusia dilakukan dengan dua cara, yaitu secara lisan maupun tulisan. Informasi secara lisan terjadi jika si pemberi informasi saling berhadapan baik langsung maupun tidak langsung. Proses komunikasi tersebut dapat dilakukan dengan cara berbicara melalui telepon, radio, televisi, dan sebagainya. Namun jika tidak dapat berhadapan komunikasi dapat dilakukan melalui surat.
Surat adalah salah satu sarana komunikasi tertulis untuk menyampaikan informasi dari satu pihak (orang, instansi, atau organisasi) kepada pihak lain (orang, instansi, atau organisasi).
                       ii.     Format Surat
Sebagai sarana tertulis, surat memiliki format penulisan, terutama surat resmi atau dinas. Dengan adanya format surat, penulisan surat menjadi teratur, bagian-bagian surat tidak ditulis sembarang melainkan ditempatkan sesuai ketentuan.
Bentuk penulisan surat atau format surat yang lazim dipergunakan ada 5 bentuk, yaitu:
(1) bentuk lurus penuh (full block style)
(2) bentuk lurus (block style)
(3) bentuk setengah lurus (semiblock style)
(4) bentuk lekuk (indented style)
(5) bentuk paragraf menggantung (hanging paragraph)
Bentuk setengah lurus atau semiblock style terdapat dua jenis, yaitu bentuk Indonesia lama (versi a) dan bentuk Indonesia baru (versi b). Berdasarkan pengamatan dalam pemakaian bentuk surat, surat-surat resmi Indonesia lama banyak menggunakan format versi a, sedangkan surat-surat resmi Indonesia baru menggunakan format versi b. Dalam kaitan dengan format surat, Pusat Bahasa dalam kegiatan surat-menyurat sehari-hari melazimkan format setengah lurus versi b. Dan, Pusat Bahasa menganjurkan kepada masyarakat, melalui penyuluhan bahasa Indonesia di berbagai instansi, penyuluhan bahasa Indonesia melalui telepon atau melalui surat, untuk menggunakan format setengah lurus b karena ini dianggap lebih efisien dan lebih menarik.
                    i.          Surat Undangan

Undangan berasal dari kata dasar “undang” dan akhiran “an”. Undang berarti panggil. Mengundang berarti memanggil atau mempersilakan datang. Undangan adalah kata benda yang berarti orang yang dipanggil atau dipersilakan datang untuk hadir pada waktu, hari, tanggal, tempat yang sudah ditetapkan dalam undangan.
Surat undangan merupakan suatu penghormatan kepada orang yang diundang. Bentuk dan susunan surat undangan hendaknya disusun semenarik mungkin, jelas isinya dan dikirimkan tepat waktu agar yang diundang dapat mempersiapkan untuk memenuhi undangan tersebut. Dengan demikian, surat undangan adalah surat pemberitahuan akan adanya suatu acara/kegiatan pertemuan, upacara dengan harapan agar penerima undangan dapat hadir pada waktu dan tempat yang telah ditetapkan.
                    ii.      Bagian-Bagian Surat Undangan
Keterangan:
a. Kepala Surat
(1) nama badan usaha,
(2) alamat badan usaha,
(3) nomor telepon,
(4) nomor kotak pos,
(5) identitas lainnya,
(6) tanggal surat,
(7) nomor yang ditujukan/alamat dalam.
b. Isi Surat
(1) salam pembuka,
(2) alasan,
(3) hari dan tanggal,
(4) waktu,
(5) tempat,
(6) acara.
c. Penutup/Kaki Surat
(1) nama badan usaha,
(2) jabatan,
(3) nama jelas,
(4) nomor induk pegawai,
(5) tembusan


A.                 Pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading and Composition
a.                  Pengertian Pembelajaran
            Pembelajaran berarti mengembangkan pengetahuan, keterampilan atau sikap baru pada saat seseorang individu berinteraksi dengan informasi dan lingkungan (Depdiknas, 2004). Di sini pembelajaran akan berlangsung dimana saja yang bersifat sengaja atau tidak sengaja.
            Teori Humanistik berpendapat bahwasanya pembelajaran berarti guru membimbing, member pengarahan agar siswa mampu mengaktualisasikan dirinya sesuai potensi yang ada.
            Menurut Oemar Hamalik (1995) pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun, meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran sebagai proses komunikatif, interaktifantar sumber belajar, guru dan siswa untuk saling bertukar informasi.

b.                    Pembelajaran Kooperatif
              Menurut Slavin (1997), pembelajaran kooperatif merupakan metode pembelajaran dengan siswa bekerja dalam kelompok yang memiliki kemampuan yang heterogen. Sedangkan pembelajaran kooperatif menurut Suherman (2003:260) mencakup suatu kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah, menyelesaikan suatu tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama.
            Dalam pembelajaran kooperatif siswa diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat bekerjasama dengan baik dalam kelompoknya, serta menjelaskan kepada teman sekelompoknya, menghargai pendapat teman, berdiskusidengan teratur; siswa yang pandai membantu yang lebih lemah, dan sebagainya.
            Unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yang perlu ditanamkan kepada siswa adalah sebagai berikut :
1). Siswa dalam kelompok harus beranggapan bahwa mereka “sehidup semati”.
2). Siswa bertanggungjawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti milik sendiri.
3). Siswa harus melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
4). Siswa haruslah berbagi tugas dan tanggung  jawabyang sama antara anggota kelompoknya.
5). Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah / penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok.
6). Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
7). Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual yang ditangani dalam kelompok kooperatif (Ibrahim dkk, 2006:6).
            Pembelajaran yang menggunakan model kooperatif mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:
1)             Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
2)             Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
3)             Bila dimungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda-beda.
4)             Penghargaan lebih berorientasi kelompok daripada individu (Ibrahim dkk, 2006:6).

c.                  Pembelajaran Kooperatif Tipe Cooperative Integrated Reading And Composition
CIRC (Cooperatif Integrated Reading and Composition) termasuk salah satu tipe model pembelajaran kooperatif. Pada awalnya model Cooperatif Integrated Reading and Composition diterapkan dalam pembelajaran bahasa. Dalam kelompok kecil, para siswa diberi suatu teks/bacaan kemudian siswa dilatih memecahkan permasalahan yang timbul.
Dalam model pembelajaran Cooperatif Integrated Reading and Composition, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen, yang terdiri atas 4 sampai 5 siswa. Dalam kelompok ini tidak dibedakan atas jenis kelamin, suku/bangsa, atau tingkat kecerdasan siswa. Jadi dalam kelompok ini sebaiknya ada siswa yang pandai, sedang atau lemah, dan masing-masing siswa sebaiknya merasa cocok satu sama lain.
Dengan pembelajaran kelompok, diharapkan siswa dapat meningkatkan pikiran kritisnya, kreatif, dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi. Sebelum dibentuk kelompok siswa diajarkan bagaimana bekerja sama dalam dalam suatu kelompok. Siswa diajari menjadi pendengar yang baik, dapat memberikan penjelasan kepada teman sekelompok, berdiskusi, mendorong teman lain untuk bekerja sama, menghargai pendapat orang lain, dan sebagainya.
Salah satu ciri pembelajaran kooperatif adalah kemampuan siswa untuk bekerjasama dalam kelompok kecil yang heterogen. Masing-masing anggota dalam kelompok kecil yang hererogen. Masing-masing anggota memilki tugas yang setara. Karena dalam pembelajaran kooperatif keberhasilan sangat diperhatikan, maka siswa yang pandai ikut bertanggung jawab membantu temannya yang lemah dalam kelompoknya.
Dengan demikian, siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuan dan keterampilannya, sedang siswa yang lemah akan terbantu dalam memahami permasalahan yang diselesaikan dalam kelompok tersebut. Slavin (1995;98) menyatakan bahwa “ in additioanto solVng the problems of management and motivation in individualized programmed instruction, CIRC was created to take advantage of the considerable socialization potential of cooperative learning”.
Kegiatan pokok dalam Cooperatif Integrated Reading and Composition untuk memecahkan masalah meliputi rangkaian kegiatan bersama yang spesifik, yakni:
1)        Salah satu anggota membaca atau beberapa anggota saling membaca
2)        Membuat prediksi atau menafsirkan permasalahan
3)        Membuat ikhtisar atau rencana penyelesaian
4)        Menuliskan penyelesaian sesuai komposisi penyelesaian
5)        Saling merevisi dan mengedit penyelesaian.

B.                Penelitian Yang Relevan
Nurul Inayah (2007)  dalam penelitiannya yang berjudul “Keefektifan Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC (Cooperatife Integrated Reading And Composition) Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah pada Pokok Bahasan Segiempat Siswa Kelas VII SMP Negeri 13 Semarang Tahun Ajaran 2006/2007”, menyimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC lebih efektif untuk meningkatkan aspek kemampuan pemecahan masalah pada pokok bahasan segiempat siswa kelas VII SMP N 13 Semarang tahun ajaran 2006/2007 dibanding dengan metode ekspositori.
Perbedaan dengan penelitian ini adalah bahwa penelitian yang dilakukan oleh Nurul Inayah (2007)  untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah pada pokok bahasan segiempat siswa kelas VII SMP Negeri 13 Semarang Tahun Ajaran 2006/2007, sedangkan penelitian ini untuk meningkatkan proses dan hasil belajar Bahasa Indonesia pada materi surat undangan bagi siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Tangkisan 02 Kecamatan Tawangsari Kabupaten Sukoharjo.

C.                Kerangka Berpikir
Hasil belajar dipengaruhi beberapa faktor yang berasal dari luar diri siswa. Salah satunya adalah penerapan metode pembelajaran. Metode pembelajaran yang efektif diperlukan untuk mengembangkan dan meningkatkan hasil belajar sesuai yang diharapkan.
            Metode pembelajaran tipe Cooperatif Integrated Reading and Composition lebih menekankan pada keaktifan siswa dan diharapkan dapat menciptakan suasana yang kondusif dan menyenangkan dalam proses pembelajaran sehingga hasil belajar dapat meningkat. Manfaat pembelajaran kooperatif bagi siswa dengan hasil belajar rendah antara lain dapat meningkatkan motivasi, meningkatkan hasil belajar, dan penyimpanan materi lebih lama.
Kelompok kerjasama antara teman sebaya menjadikan proses pembelajaran benar-benar dinikmati oleh siswa. Karena interaksi kelompok dapat menimbulkan kebutuhan saling memiliki. Siswa dalam kelompok akan berusaha mendorong teman-teman sekelasnya supaya berhasil dalam pembelajarannya.


A.                Pengajuan Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori di atas dapat diajukan hipotesis tindakan, yakni melalui penggunaan Cooperatif Integrated Reading and Composition dapat meningkatkan proses dan hasil belajar Bahasa Indonesia pada materi surat undangan bagi siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Tangkisan 02 Kecamatan Tawangsari Kabupaten Sukoharjo.

BAB III
METODE PENELITIAN

A.                Setting  Penelitian
1.                  Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di kelas V Sekolah Dasar Negeri Tangkisan 02, dengan jumlah siswa 23 orang, terdiri dari 11 orang siswa laki-laki dan 12 orang siswa perempuan.
2.                  Waktu Penelitian
            Pelaksanaan penelitian dengan metode pembelajaran kooperatif tipe Cooperatif Integrated Reading and Composition diperkirakan selama 3 bulan, yakni bulan September sampai dengan bulan Nopember 2010.
3.                  Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa dan Guru kelas V. Siswa tersebut berjumlah 23 orang, terdiri dari 11 orang siswa laki-laki dan 12 orang siswa perempuan.  Adapun guru yang dijadikan subjek penelitian ini adalah guru kelas V, bernama Wagiastuti.
B.                Data dan Sumber Data
Data yang dikumpulkan berupa informasi tentang:
(a) aktivitas guru, dalam pembelajaran kooperatif tipe Cooperatif Integrated Reading and Composition.
(b) aktivitas siswa, dalam pembelajaran kooperatif tipe Cooperatif Integrated Reading and Composition.
(c) hasil belajar siswa, menulis surat undangan.
Data penelitian bersumber dari situasi dan kondisi pembelajaran Bahasa Indonesia :
1.      Observasi (pengamatan) menurut Suharsini Arikunto (2006) berarti juga mengamati adalah menatap kejadian, gerak atau proses. Pengamatan yang dilakukan oleh orang yang terlibat aktif dalam proses pelaksanaan tindakan. Bentuk pengamatan adalah daftar cek oleh guru sebagai observer. Data yang dikumpulkan berupa informasi tentang proses pembelajaran, yang meliputi: (a) aktivitas guru,  (b) aktivitas siswa, (c) hasil belajar siswa, dan (d) tanggapan siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe Cooperatif Integrated Reading and Composition.
2.      Metode angket
Menurut Suharsini Arikunto (2006:151) angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui.  Angket atau questioner digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap penerapan pembelajaran kooperatif tipe
3.      Dokumentasi artinya mengenai hal-hal yang berupa data primer dan data sekunder yang menunjang proses belajar di kelas (Suharsini Arikunto; 2006). Dalam penelitian ini dokumen yang dikaji berupa daftar hadir, daftar nilai, silabus, hasil kerja siswa dan hasil kerja guru serta lembar kerja guru.   

C.                Prosedur Penelitian
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), adapun tahapan yang akan dilakukan dalam PTK ini menggunakan model yang dikembangkan oleh Kurt Lewin seperti disebutkan dalam Dikdasmen (2003:18) bahwa tahap-tahap tersebut atau biasa disebut siklus (putaran) terdiri dari empat komponen yang meliputi : (a) perencanaan (planning), (b) aksi/tindakan (acting), (c) observasi (observing), (d) refleksi (reflecting).
Prosedur penelitian tindakan kelas ini secara garis besar dapat dilihat dalam tabel berikut ini:
Tabel 1 : Siklus Kegiatan Penelitian
Siklus I
Perencanaan
Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dilaksanakan.
Menentukan pokok bahasan
Mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
Menyiapkan sumber belajar seperti buku
Mengembangkan format evaluasi
Tindakan
Melaksanakan KBM yang mengacu pada rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disiapkan.
Melakukan evaluasi dalam bentuk tes kemampuan pemahaman konsep yang dipelajari.
Pengamatan
Melakukan observasi dengan menggunakan format observasi
Refleksi
Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan meliputi efektifitas waktu yang telah dilaksanakan.
Membahas hasil tindakan.
Memperbaiki pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan yang belum mencapai sasaran.
Evaluasi tindakan.

Indikator keberhasilan siklus I
Instrument-instrumen yang telah disiapkan pada siklus I dapat dilaksanakan semua
Siswa mampu melaksanakan KBM dengan aktifitas yang tinggi.
Siswa mampu membuat contoh surat undangan.
Siklus II
Perencanaan
Identifikasi masalah dan penetapan alternatif pemecahan masalah
Pengembangan program tindakan II
Tidakan
Pelaksanaan program tindakan II
Pengamatan
Pengumpulan data tindakan II
Refleksi
Evaluasi tindakan II
Indikator keberhasilan siklus II
Instrumen-instrumen yang telah disiapkan pada siklus II dapat terlaksanakan semua
Aktifitas siswa dalam KBM meningkat.
Motivasi siswa dalam KBM meningkat
Hampir 100 % pencapaian hasil belajar menunjukan peningkatan.


A.                Metode/Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan metode observasi, dokumentasi serta angket. Data dalam penelitian dapat dikumpulkan melalui beberapa metode, antara lain :
a.      Tes digunakan untuk mengukur penguasaan materi menghitung volume kubus dan balok.
b.      Angket atau questioner digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap penerapan pembelajaran kooperatif tipe Cooperatif Integrated Reading and Composition.
c.      Observasi digunakan untuk mengetahui aktivitas siswa dalam pembelajaran pada setiap siklus.
d.      Observasi juga dilakukan untuk mengetahui kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran sesuai dengan pembelajaran kooperatif tipe Cooperatif Integrated Reading and Composition.

B.                Teknik Pemeriksaan Validitas Data
Untuk menjamin pemantapan dan kebenaran data yang dikumpulkan dan di catatan dalam penelitian maka dipilih dan ditemukan cara-cara yang tepat untuk mengembangkan validitas data yang diperoleh. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik triangulasi, triangulasi yaitu penyilangan informasi yang diperoleh dari sumber sehingga pada akhirnya hanya data yang absah saja yang digunakan untuk mencapai hasil penelitian (Arikunto, 2006:18).
Penelitian ini menggunakan teknik triangulasi penyelidikan dengan jalan memanfaatkan penelitian dan penguatan untuk keperluan pengecekan kembali derajat kepercayaan data. Pemantapan lainnya adalah guru sebagi peneliti, kepala sekolah serta teman sejawat dapat membantu mengurangi kemencengan dalam pengumpulan data.


C.                Teknik   Analisis Data
Analisa data dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif, komparatif, yaitu membandingkan nilai tes antar siklus maupun dengan indikator kinerja. Data yang diperoleh dari hasil tes, dianalisis secara kuantitatif berdasarkan prosentase.
Sedangkan data yang diperoleh dari hasil observasi, dan angket, dinalaisis secara kulitatif untuk mngetahui tnggapan siswa dan perilaku siswa setelah penerapan pembelajaran kooperatif tipe Cooperatif Integrated Reading and Composition.

D.           Indikator Kinerja
Tabel 2: Indikator Kinerja Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas
NO
ASPEK YANG DIUKUR
TARGET PENCAPAIAN
TEMA MENGUKUR
1
Aktifitas Guru
Aktifitas guru yang mengajar sudah mencapai 75 %
Guru mengamati saat pembelajaran dengan menggunakan lembar pengamatan oleh rekan sejawat
2
Aktifitas belajar siswa
Aktifitas siswa belajar mencapai 75 %
Siswa diamati saat pembelajaran dengan lembar pengamatan dan dihitung jumlah yang aktif saat mengikuti pembelajaran Bahasa Indonesia
3
Hasil Belajar
Hasil belajar telah mencapai 75% dari jumlah siswa mendapat nilai minimal 6,3 (sesuai Kriteria Ketuntasan Minimal)
Prestasi dari jumlah siswa yang memperoleh nilai 6,3 atau lebih dinyatakan telah mencapai ketutasan belajar

E.            Jadwal Penelitian
Penelitian akan dilaksanakan pada rentang waktu bulan September sampai dengan bulan Nopember 2010. Adapun jadwal kegiatan pokok adalah sebagai berikut.

Tabel 3: Jadwal Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas
No.
Kegiatan
Waktu: Bulan ke . . . .
1
2
3
4


1.
Studi Pendahuluan: orientasi, identifikasi masalah, dan anali-sis masalah, proposal penelitian.
Ö





2.
Pembuatan Instrumen penelitian dan pendalaman literatur.
Ö





3.
Persiapan dan pelaksanaan siklus tindakan pembelajaran

Ö
Ö



4.
Penyusunan Draft Laporan


Ö
Ö




BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A.                Kondisi Awal
Dari hasil observasi sebelum diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading And Composition  terdapat beberapa hal yang menggambarkan rendahnya minat belajar siswa, kurangnya siswa untuk bertanya dan menjawab pertanyaan guru, sehingga interaksi bersifat pasif. Hal ini akan mempengaruhi hasil belajar siswa atau prestasi belajar siswa.
Berdasarkan dokumentasi nilai dan diskusi dengan teman sejawat diperoleh bahwa pemahaman materi menulis surat undangan masih rendah. Hal ini terbukti dari hasil ulangan harian, masih banyak siswa yang belum mencapai nilai sesuai dengan Standar Ketuntasan Belajar Minimal yang telah ditetapkan yaitu 63.
Tabel 1: Nilai Ulangan Harian sebelum Tindakan
No
Nama Siswa
Nilai
Ket
1
Nanda Khusnul Khotimah
66
Tuntas
2
Anang Setiawan
48
Belum tuntas
3
EV Harwanti
80
Tuntas
4
Heru Tri Haryanto
40
Belum tuntas
5
Lutfi Dwi Handoko
65
Tuntas
6
Annisa Nur Fausiah
72
Tuntas
7
Alfina DeV Exsanti
74
Tuntas
8
Aziz Satria Utama
74
Tuntas
9
Aisyah Nur Kasanah
66
Tuntas
10
Angga Prasetyo
40
Belum tuntas
11
Chulukin Ridwan M
56
Belum tuntas
12
Erika Septiana
74
Tuntas
13
Fatimah Inayah
80
Tuntas
14
Istiqumah
91
Tuntas
15
Sindyana Ayu D.P.
82
Tuntas
16
Sri Rejeki
73
Tuntas
17
Saifudin Mahmud
65
Tuntas
18
Husnan Muhammad I
40
Belum tuntas
19
Maya Safira Aprilia
57
Belum tuntas
20
Edo Setyo Nugroho
50
Belum tuntas
21
Nina Anis Safitri
80
Tuntas
22
DeV Prasetyo Nugroho
62
Belum tuntas
23
Nugroho Jolang Sukmono
52
Belum tuntas
JUMLAH
1487
RATA-RATA
65
NILAI TERTINGGI
91
NILAI TERENDAH
40
Hal lain yang mempengaruhi hasil belajar siswa pada materi surat undangan adalah penggunaan metode pembelajaran. Metode yang digunakan adalah metode konvensional yaitu metode ceramah, dimana siswa cenderung bersifat  pasif  karena siswa hanya sebagai pendengar. Di samping itu pembelajaran yang dilakukan selalu bersifat klasikal, sehingga interaksi antarsiswa selama pembelajaran berlangsung hampir tidak ada.
Upaya perbaikan untuk meningkatkan proses dan hasil belajar siswa, adalah pembaharuan metode pembelajaran. Metode yang digunakan adalah model pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading And Composition. Yang direncanakan selama dua siklus.

B.                Diskripsi Hasil Siklus I

1.                  Perencanaan Tindakan
Guru dalam siklus I mempersiapkan perangkat pembelajaran berupa silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan materi surat undangan. Dalam kaitannya proses pembelajaran guru juga mempersiapkan Lembar Kerja Siswa dan alat evaluasi untuk mengukur keberhasilan siswa.
Pertemuan pertama
A. Kegiatan Awal
o   Menjelaskan pokok materi, tujuan pembelajaran, dan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki siswa setelah pembelajaran usai.
o   Menjelaskan metode yang akan digunakan.
o   Membentuk siswa dalam kelompok dan memotivasi siswa.
B. Kegiatan Inti
o   Guru menjelaskan tugas masing-masing kelompok
o   Guru membagikan contoh surat undangan.
o   Siswa memperhatikan penjelasan guru tentang materi pembelajaran
o   Siswa mengerjakan tugas dalam kelompoknya masing-masing.
o   Setiap kelompok melaporkan hasil diskusinya.
C. Kegiatan Akhir
o   Siswa dan guru melakukan refleksi pada kegiatan pembelajaran yang telah dilalui.
o   Guru dan siswa membuat kesimpulan.
Pertemuan ke dua
A. Kegiatan Awal
o   Tanya jawab tentang materi yang telah dipelajari pada pertemuan pertama tentang surat undangan.
B. Kegiatan Inti
o   Guru menjelaskan materi tentang bagian-bagian surat.
o   Siswa memperhatikan penjelasan guru tentang materi pembelajaran
o   Siswa mengerjakan tugas dalam kelompok tentang :
a.    mengedit surat undangan;
b.   memahami isi surat undangan
c.    membuat surat undangan;
o  Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang materi yang belum dipahami
o   Setiap kelompok melaporkan hasil diskusinya.
C. Kegiatan Akhir
Siswa dan guru melakukan refleksi pada kegiatan pembelajaran yang telah dilalui.

2.                  PelaksanaanTindakan
Pelaksanaan tindakan pada siklus I guru menerapkan pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading And Composition. Pada awal pertemuan guru menginformasikan pada siswa model pembelajaran yang akan digunakan yaitu model pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading And Composition. Kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran sesuai indikator yang akan dicapai serta memberi motivasi kepada siswa agar lebih giat belajar.
Guru membagi siswa dalam 5 kelompok setiap kelompok terdiri antara 4 sampai 5 anggota.
Pada kegiatan guru menyajikan materi tentang surat undangan. Kemudian guru menyuruh siswa bergabung dengan kelompoknya masing-masing, setelah berada dalam kelompoknya guru membagikan Lembar Kerja Siswa dan meminta siswa menyelesaikan soal-saol dalam Lembar Kerja Siswa. Selama siswa mengerjakan soal-soal dalam Lembar Kerja Siswa guru memantau kerja tiap-tiap kelompok. Guru selalu mengingatkan agar dalam kerja kelompok dikerjakan bersama, sehingga setiap anggota memahami jawaban yang dimaksud.
Selanjutnya guru membimbing siswa untuk merangkum materi yang telah dibahas, kemudian guru memberikan pekerjaan rumah dan mengakhiri pembelajaran.

3.                  Observasi
a.       Hasil observasi kinerja guru
Hasil observasi terhadap aktivitas mengajar guru pada siklus I menunjukkan bahwa guru telah melakukan proses pembelajaran yang telah direncanakan, walaupun masih ada kekurangan. Semua kegiatan diawali pendahuluan , inti dan penutup belum  dilaksanakan secara optimal. Data pendukung lihat lampiran.
Table 2: Hasil observasi kinerja guru SD Negeri Tangkisan 02 dalam pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading And Composition
KEGIATAN
PERTEMUAN
RATA-RATA
I
II
A. Pendahuluan
3,66
4,00
3,83
B. Inti
3,75
3,87
3,81
A.   Penutup
3,00
3,00
3,00
RATA-RATA
3,47
3,62
3,545

b.      Hasil observasi aktivitas siswa
Berdasarkan hasil observasi kegiatan siswa pada pertemuan I dapat diketahui bahwa aktivitas kerja sama mencapai 43%, bertanya 56%, mengemukakah pendapat 60%, membuat rangkuman 60%, maka rata-rata aktivitas mencapai 55%.


Pada pertemuan II aktivitas siswa menunjukkan adanya peningkatan sebagai berikut: kerja sama 47%, bertanya 60%, mengemukakah pendapat 65%, membuat rangkuman 69%, sehingga rata-rata aktivitas mencapai 60%.


a.       Hasil Belajar/Tes
Pelaksanaan pembelajaran siklus I diperoleh hasil tes sebagai berikut:
Tabel 5: Hasil Tes Siklus I Siswa SD Negeri Tangkisan 02 dalam pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading And Composition
1.                  Refleksi

a.                  Kemajuan
Berdasarkan data hasil observasi aktivitas guru mengalami peningkatan walaupun belum optimal. Pada pertemuan I persentase aktivitas guru sebesar 3,47 menjadi 3,62 pada pertemuan II .
Berdasarkan hasil tes pada siklus I, hasil belajar belajar siswa sudah mengalami peningkatan dibandingkan sebelum tindakan, dari 23 siswa sebanyak 9 siswa (39%) belum mencapai kriteria ketuntasan belajar minimal yang telah ditetapkan sekolah dan setelah tindakan siklus I terdapat 8 siswa (35%) belum mencapai kriteria ketuntasan belajar minimal yang telah ditetapkan.
Berdasarkan data hasil observasi aktivitas siswa juga mengalami peningkatan dari pertemuan pertama rata-rata aktivitas siswa sebesar 55% pada pertemuan ke dua menjadi 59%.
Penerapan pembelajaran diorientasikan pada kerja kelompok siklus I, belum dapat dilaksanakan secara optimal,  sebab siswa masih nampak belajar secara individu dan tergantung pada instruksi guru. Hal ini terjadi karena siswa belum terbiasa menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading And Composition sehingga siswa masih menyesuaikan diri.
b.                  Kekurangan
Dari hasil pengamatan guru terhadap aktivitas belajar siswa dan rekan sejawat terhadap aktivitas mengajar guru diperoleh hasil pengamatan sebagai berikut:
a.       Hasil pengamatan terhadap aktivitas mengajar guru menunjukkan bahwa:
1.      Guru dalam mengaitkan pelajaran sekarang dan sebelumnya kurang optimal.
2.      Guru dalam mempresentasikan materi informasi kurang maksimal.
3.      Dalam mengajukan pertanyaan kurang bisa dipahami siswa.
4.      Guru kurang optimal dalam membimbing belajar kelompok.
5.      Guru kurang membimbing siswa dalam membuat rangkuman materi.
6.      Guru kurang memperhatikan alokasi waktu yang tersedia
b.      Berdasarkan tabel aktivitas belajar siswa menunjukkan bahwa:
1.      Siswa kurang antusias dalam kerja sama
2.      Siswa belum berani bertanya mengenai materi yang belum dipahami.
3.      Siswa kurang berani mengemukakan pendapat.
4.      Sebagian besar siswa belum membuat rangkuman
Berdasarkan hasil tes pada siklus I dari 23 siswa sebanyak 15 siswa (65%) yang sudah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal, dan ada 8 siswa (35%) yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal.
Berdasarkan hasil angket terhadap pelaksanaan pembelajaran diperoleh data sebagai berikut:
1.    Item angket nomor 3 yang berbunyi “Saya senang belajar dari penjelasan teman”. Dari 23 siswa menjawab ragu-ragu 15 anak (65%). Hal ini disebabkan siswa merasa kurang yakin atas kebenaran penjelasan yang diberikan oleh teman.
2.      Item angket nomor 4 yang berbunyi “Siswa merasa mudah memahami penjelasan dari teman”, dari 23 siswa merasa ragu-ragu sejumlah 17anak (74%), karena siswa merasa kurang jelas atas penjelasan yang diberikan temannya.

c.       Kendala
Penerapan pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading And Composition anak  merasa asing dan belum terbiasa
Kelemahan dan kekurangan yang terjadi pada siklus I akan diperbaiki pada pelaksanaan tindakan siklus II.

A.                Diskripsi Hasil Siklus II
1.                  Perencanaan Tindakan
Pada tindakan siklus II, guru mengadakan penyempurnaan pada perangkat pembelajaran yang terdiri dari silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan alat evaluasi. Untuk kegiatan pembelajaran guru mempersiapkan Lembar Kerja Siswa serta lembar pengamatan. Langkah-langkah yang akan dilaksanakan adalah sebagai berikut:

A. Kegiatan Awal
o   Menjelaskan pokok materi, tujuan pembelajaran, dan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki siswa setelah pembelajaran usai.
o   Menjelaskan metode yang akan digunakan.
o   Membentuk siswa dalam kelompok dan memotivasi siswa.
B. Kegiatan Inti
o   Guru menjelaskan tugas masing-masing kelompok
o   Guru membagikan contoh surat undangan.
o   Siswa memperhatikan penjelasan guru tentang materi pembelajaran
o   Siswa mengerjakan tugas dalam kelompoknya masing-masing.
o   Setiap kelompok melaporkan hasil diskusinya.
C. Kegiatan Akhir
o   Siswa dan guru melakukan refleksi pada kegiatan pembelajaran yang telah dilalui.
o   Guru dan siswa membuat kesimpulan.
Pertemuan ke dua
A. Kegiatan Awal
o   Tanya jawab tentang materi yang telah dipelajari pada pertemuan pertama tentang surat undangan.
B. Kegiatan Inti
o   Guru menjelaskan materi tentang bagian-bagian surat.
o   Siswa memperhatikan penjelasan guru tentang materi pembelajaran
o   Siswa mengerjakan tugas dalam kelompok tentang :
a.    mengedit surat undangan;
b.   memahami isi surat undangan
c.    membuat surat undangan;
o  Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang materi yang belum dipahami
o   Setiap kelompok melaporkan hasil diskusinya.
C. Kegiatan Akhir
Siswa dan guru melakukan refleksi pada kegiatan pembelajaran yang telah dilalui.

2.                  Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan siklus II merupakan lanjutan dari tindakan siklus I. Pada awal pertemuan guru membahas pekerjaaan rumah dan menginfornasikan model pembelajaran yang akan digunakan yaitu model pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading And Composition. Kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran sesuai indikator yang ingin dicapai serta memberikan motivasi kepada siswa supaya lebih sering mengerjakan soal-soal latihan agar berhasil dengan nilai yang memuaskan.
Masuk pada kegiatan inti guru menyajikan materi tentang surat undangan. Kemudian guru menyuruh siswa bergabung dengan kelompoknya masing-masing. Setelah berada pada kelompoknya guru membagikan Lembar Kerja Siswa dan meminta siswa menyelesaikan soal-soal dalam Lembar Kerja Siswa. Selama siswa menyelesaikan soal-soal dalam Lembar Kerja Siswa, guru memantau kerja dari setiap kelompok. Guru memberi bimbingan pada kelompok yang menemui kesulitan dalam mengerjakan soal. Pada siklus II siswa sudah lebih baik dalam mempresentasikan hasil kerja kelompoknya.
Selanjutnya guru menyimpulkan jawaban siswa dari masing-masing kelompok.
3.                  Observasi
a.       Hasil observasi kinerja guru
Pelaksanaan tindakan siklus II telah ada peningkatan dibandingkan siklus I, hal ini dapat dilihat dari hasil observasi aktivitas mengajar guru siklus II. Hasil observasi terhadap kinerja guru menujukkan bahwa:
1.         Guru sudah mengaitkan pelajaran sekarang dan sebelumnya.
2.         Guru dalam mempresentasikan materi informasi sudah maksimal.
3.         Dalam mengajukan pertanyaan sudah bisa dipahami siswa.
4.         Guru sudah optimal dalam membimbing belajar kelompok.
5.         Guru sudah membimbing siswa dalam membuat rangkuman materi.
6.         Guru sudah memperhatikan alokasi waktu yang tersedia
a.       Hasil observasi aktivitas siswa
Berdasarkan hasil observasi aktivitas siswa menunjukkan bahwa:
1.         Siswa antusias dalam kerja sama
2.         Siswa berani bertanya mengenai materi yang belum dipahami.
3.         Siswa berani mengemukakan pendapat.
4.         Sebagian besar siswa sudah membuat rangkuman
a.       Hasil Belajar/Tes
Jika dilihat dari hasil tes pada evaluasi pelaksanaan tindakan siklus II semua telah memperoleh nilai sesuai dengan standar ketuntasan belajar minimal yang telah ditetapkan. Maka penelitian ini telah berhasil dilaksanakan sesuai dengan rencana.

1.                   Refleksi
Berdasarkan hasil pembelajaran secara keseluruhan sampai berakhirnya tindakan kelas siklus II. Perilaku siswa yang berkaitan dengan permasalahan yang diangkat pada penelitian ini semuanya ada perubahan yang positif, yaitu hasil siswa dalam keaktifan belajar meningkat sekitar 36 %. Hasil tes belajar siswa meningkat 17 anak.
1.                  Pembahasan
Penelitian dilaksanakan selama dua siklus, setiap siklus dilakukan refleksi yang dibantu oleh observer. Hasil observasi setiap siklus telah disajikan di atas.
Berdasarkan hasil observasi pada siklus I, guru dan siswa telah melaksanakan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading And Composition, namun masih terdapat kekurangan baik dari guru maupun siswa. Diantaranya guru kurang optimal dalam mengaitkan pelajaran sekarang dengan sebelumnya, guru kurang optimal dalam mempresentasikan informasi, kurang optimal dalam membimbing kelompok, guru kurang dalam memberikan bimbingan kepada siswa dalam membuat rangkuman materi, serta guru belum mampu mengelola waktu yang tersedia dengan baik. Adapun kekurangan siswa adalah siswa kurang berani mengajukan pertanyaan dan sebagian siswa tidak membuat rangkuman.
Berdasarkan hasil tes pada siklus I dari 23 siswa sebanyak 15 siswa (65,2%) yang sudah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal, dan ada 8 siswa (34,8%) yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal.
Adanya kekurangan-kekurangan pada tindakan siklus I maka dilanjutkan pada tindakan siklus II.
Pada tindakan siklus II, model pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading And Composition kembali dilaksanakan. Berdasarkan hasil observasi pada siklus II kegiatan guru dalam melaksanakan pembelajaran telah meningkat, dari siklus I rata-rata hasil observasi 3,565 pada siklus II 3,83 meningkat 0,27. Kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I dapat diperbaiki.
Aktivitas siswa juga mengalami peningkatan rata-rata pada tindakan siklus I 57,5 pada tindakan siklusI 93,5 meningkat 36. Siswa yang semula tidak membuat rangkuman telah membuat rangkuman, siswa sudah berani mengajukan pertanyaan.
Nilai siswa pada siklus II ada peningkatan, dimana rata-rata siklus I adalah 67 dan pada siklus II adalah  84. Pada siklus I siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal 65,2% (15  siswa) pada siklus II siswa yang Kriteria Ketuntasan Minimal 100% (23 siswa).
Berdasarkan hasil observasi guru dan siswa serta hasil belajar siklus I dan  II dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading And Composition dapat meningkatkan proses dan hasil belajar Bahasa Indonesia pada materi menulis surat undangan  bagi siswa kelas V semester I, Sekolah Dasar Negeri Tangkisan 02 Kecamatan Tawangsari tahun pelajaran 2010/2011.
Dengan demikian dapat dianalisis bahwa peningkatan proses dan hasil belajar Bahasa Indonesia pada materi menulis surat undangan setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading And Composition, karena model tersebut memberi kesempatan kepada siswa terhadap pemahaman konsep, dengan jalan diskusi dengan teman. Jadi guru hanya sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran dan memberikan bimbingan dan arahan agar pembelajaran berlangsung dengan baik.
BAB V
PENUTUP
A.    Simpulan
      Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan selama dua siklus, hasil seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Model pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading And Composition dapat meningkatkan proses dan hasil belajar Bahasa Indonesia.
2.      Model pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading And Composition memiliki dampak positif dalam meningkatkan proses belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan aktivitas belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu siklus I (57,5%), dan siklus II (93,5%).
3.      Model pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading And Composition memiliki dampak positif dalam meningkatkan hasil belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu siklus I (65%), dan siklus II (100%).
4.      Model  pembelajaran  kooperatif  tipe Cooperative Integrated Reading And Composition dapat menjadikan siswa merasa dirinya mendapat perhatian dan kesempatan untuk menyampaikan pendapat, gagasan, ide, dan pertanyaan.
5.      Siswa dapat bekerja secara mandiri maupun kelompok, serta mampu mempertanggungjawabkan tugas individu maupun kelompok.
Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading And Composition mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa.
A.    Saran
       Dari hasil penelitian yang diperoleh agar proses belajar mengajar Bahasa Indonesia lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut :
1.        Untuk melaksanakan model pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading And Composition  memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan  model pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading And Composition dalam pross belajar mengajar sehingga memperoleh hasil yang optimal.
2.        Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan berbagai metode pengajaran, walau dalam taraf yang sederhana, dimana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.
3.        Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakukan di SD Negeri Tangkisan 02 tahun pelajaran 2010/2011.
Untuk peneltian yang serupa hendaknya dilakukan perbaikan-perbaikan agar diperoleh hasil yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2003. Pelayanan Profesional Kurikulum 2004: Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif. Jakarta: Pusat Kurikulum.
__________. 2004. Pelayanan Profesional Kurikulum 2004: Penilaian Kelas. Jakarta: Pusat Kurikulum.
_________. 2010. Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Unggul Kelas XII.  http//Siska.fe.unibraw.ac.id
________. 2008. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Model Silabus Kelas V. Jakarta: BNSP.
________. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. http://www.bp/disdik-jabar.net/materi/PS-1203-27.pdf
Depdiknas. 2007. KTSP: Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah Kelas V. Jakarta: BNSP
Ibrahin. Muslimin, dkk. 2006. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: University Press Depdiknas. 1999. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah.
Kasbolah, K. 1999. Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti.
Slavin R. 1997. Cooperative Learning. Second Edition.alya & Bacon. A Simon & Aschuster Company
Suharsimi Ari Kunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Praktik. Jakarta: Rineka Jakarta.
Wardani, I.G.A.K. dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar